"Don't be afraid of change... you may lose something good, but you may gain something even better (ง •̀_•́)ง "

Kamis, 12 April 2012

PT INDOFARMA TBK


VISI DAN MISI PT INDOFARMA TBK

VISI

            Menjadi Perusahaan yang berperan secara signifikan pada perbaikan kualitas hidup manusia dengan memberi solusi terhadap masalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

MISI

Menyediakan produk & layanan yang berkualitas dengan harga terjangkau untuk masyarakat.

Melakukan penelitian & pengembangan produk yang inovatif dengan prioritas untuk mengobati penyakit dengan tingkat prevalensi tinggi.

Mengembangkan kompetensi SDM sehingga memiliki kepedulian, profesionalisme & kewirausahaan yang tinggi.


SAJARAH PT INDOFARMA TBK

            Cikal bakal PT. Indofarma dimulai pada saat didirikannya yaitu pada tahun 1918, dimulai dari pabrik kecil dengan fasilitas terbatas yang hanya dapat memproduksi beberapa jenis salep dan kasa pembalut, untuk memenuhi kebutuhan Rumah Sakit Pusat Pemerintah Belanda. Seiring dengan bertambahnya fasilitas produksi untuk tablet dan injeksi, pabrik kecil ini mulai dikenal dengan nama Pabrik Obat Manggarai. Selama perang dunia ke-dua, Takeda Jepang memegang kendali manajemen pabrik.

1918

Berdirinya PT. Indofarma (Persero) Tbk dimulai dari sebuah unit produksi kecil dari Rumah Sakit Pusat Pemerintah Belanda yang memproduksi beberapa jenis salep dan kasa pembalut.
1931
Mulai memproduksi obat-obatan berupa tablet dan injeksi dan mulai dikenal sebagai Pabrik Obat Manggarai setelah unit produksi dipindahkan ke Manggarai, Jakarta.
1942
Pemerintah Jepang mengambil alih dan dikelola oleh Takeda, Jepang.
1950
Pemerintah RI mengambil alih kembali dan mulai dikelola oleh Departemen Kesehatan.
1979
Pabrik Obat Manggarai berubah status menjadi Pusat Produksi Farmasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dimana bertugas untuk memproduksi obat untuk pemerintah.
1981
Pusat Produksi Farmasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia berubah status menjadi Perusahaan Umum Indonesia Farma (disingkat Perum Indofarma), berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No. 20 tahun 1981.
1988
Mulai pembangunan pabrik di Cibitung, Bekasi Jawa Barat seluas 20 hektar yang berkapasitas besar dengan konsep Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
1991
Aktivitas proses produksi di Jakarta dipindahkan ke pabrik baru, Cibitung, Bekasi Jawa Barat.
1993
Fasilitas produksi yang baru untuk produksi steril termasuk sefalosfurin dibangun.
1996
Perusahaan Umum Indonesia Farma berubah status menjadi PT. Indofarma (Persero), berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No. 34 tahun 1995.
Dan pada tahun 1996 tersebut juga mengakuisisi PT. Riasima Abadi Farma, sebuah produsen bahan baku farmasi.
1999
Pembangunan gedung “Extraction Plant” dan selesai awal tahun 2000.
2000
Pendirian anak perusahaan: PT. Indofarma Global Medika (IGM) yang bergerak di bidang distribusi dan perdagangan, sedangkan PT. Indofarma fokus terhadap manufaktur dan pemasaran. Perusahaan juga mendapatkan Sertifikat ISO-9002 khususnya untuk Unit Produksi Steril.
2001
PT. Indofarma (Persero) berubah status menjadi perusahaan terbuka dengan nama PT. Indofarma (Persero) Tbk, dengan melakukan penawaran saham perdana sebesar 20% kepada masyarakat dan mencatatkan seluruh saham Perseroan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan kode saham INAF.


PROFIL

PT. Indofarma (Persero) Tbk
Berkedudukan di Jakarta

Pembentukan Perusahaan
Tanggal  2 Januari 1996

Bidang Usaha
Industri farmasi dan alat kesehatan

Alamat
Kantor Pusat dan Pabrik
Jalan Indofarma No.1
Cikarang Barat - Bekasi 17530
Telepon                       (021)-88323971
Faksimili                      (024)-88323972–73
http://www.indofarma.co.id

Kantor Komersial
Jalan Tambak No.2
Kebon Manggis, Matraman
Manggarai, Jakarta 13150
Telepon     (021)-8590 8350
Faksimili    (021)-857 4503, 851 7223

Leadership and Governance

Dewan Komisaris
Komisaris Utama/Independen
Prof. DR. Dr. H. Azrul Azwar MPH
Komisaris
Drs. Mochamad Ichsani, MM
Komisaris
dr. H. Chalik Masulili, MSc
Komisaris Independen
dr. Nizar Yamanie Sp.S(K)


Dewan Direksi
Direktur Utama
P. Sudibyo
Direktur Keuangan
 Djakfarudin Junus
Direktur Umum & SDM
 Deden Edi Soetrisna
Direktur Pemasaran
Elfiano Rizaldi
Direktur Produksi
 Yuliarti R. Merati


Komite Audit
Ketua
Prof. DR. Dr. H. Azrul Azwar MPH
Sekretaris
 Drs. Warga Murad
Anggota
Drs. Muhammad Asawir Harahap, Ak
Anggota
Purwadi, AK.,M.M.


Komite GCG dan Komite Remunerasi & Nominasi
Ketua
Prof.DR.Dr.H. Azrul Azwar MPH
Anggota
Drs. M. Dwidjo Susono, Apt.,SE


Corporate Secretary
Isakayoga,C.H.
Telp.
(021) 88323975; 85908350
Fax
(021) 88323972/73; (021) 8574503
E-mail:


Corporate Social Responsibility

PT Indofarma Tbk memiliki tiga kebijakan utama dalam melakukan CSR, yaitu:
1. Membangun tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
Perseroan senantiasa memberikan perhatian kepada kualitas sumber daya manusianya. Mempertahankan integritas karyawan dan manajemen menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, pengembangan sistem pengendalian intern yang berkesinambungan dan pengawasan yang melekat terhadap pelaksanaannya, merupakan prioritas bagi Perseroan. 
2. Melakukan komunikasi yang interaktif dengan pihak-pihak yang berkepentingan (Stakeholders).
Perseroan membangun komunikasi yang interaktif melalui beberapa jalur komunikasi seperti website, majalah internal, serta tatap muka manajemen & karyawan berupa apel bulanan.
3. Memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat luas.
Perseroan secara bertahap telah mencoba mengembangkan bakti sosialnya kepada masyarakat. Beragam bidang dan strata sosial telah dijangkau oleh kegiatan sosial Perseoran, seperti bidang kesehatan (donor darah bersama PMI dan sunatan gratis), bidang pendidikan (pemberian beasiswa pendidikan formal), bidang kesejahteraan (bantuan bagi korban bencana), dan lain-lain.

MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA
Komunitas sosial, terutama di sekitar pabrik dan kantor, merupakan stakeholder yang sangat penting untuk masa depan sebuah perusahaan. Karena itu, Indofarma selalu berupaya mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari komunitas sekitar. Salah satu caranya adalah melalui kegiatan community development.
Sejak 1991, Indofarma selalu menyisihkan dana untuk menjalankan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL, dulu bernama PUKK atau Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi). Untuk Program Kemitraan, sampai dengan 31 Desember 2008, realisasi dana yang tersalur dalam bentuk pinjaman mencapai Rp15,47 miliar dan berupa hibah Rp3,16 miliar. Dari pinjaman yang diberikan, Rp3,00 miliar atau 19,3% bermasalah.
Sepanjang 2008, tersalur dana dalam bentuk pinjaman modal sebesar Rp1,17 miliar, meningkat 21,9% dibanding pinjaman modal pada tahun sebelumnya yang hanya Rp0,96 miliar. Selain itu, Indofarma juga menyalurkan dana dalam bentuk hibah (Rp23,50 juta, dengan biaya operasional Rp49,30 juta) dan Bina Lingkungan (Rp22,50 juta, dengan biaya operasional Rp1,17 juta).
Sejak 1991 itu, Indofarma telah melakukan pembinaan terhadap 1.274 Mitra Binaan. Di antara Mitra Binaan, 926 bergerak di bidang perdagangan dan sisanya di bidang industri manufaktur (45), jasa (50), pertanian, (93), peternakan (8), perikanan (1), dan lain-lain (dalam bentuk koperasi, 151). Sampai dengan 31 Desember 2008, 563 Mitra Binaan telah selesai dibina.
Untuk Program Bina Lingkungan, pada 2008 Indofarma memberikan bantuan obat-obatan melalui program BUMn Peduli senilai Rp11,00 juta. Kegiatan sosial lain yang dilakukan Indofarma adalah pemberian bantuan alat kesehatan dan MP ASI (Makanan Pendamping air Susu Ibu) untuk keluarga pra-sejahtera. Selain itu, Perseroan juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dan beasiswa kepada 16 murid SD dan SMP yang berprestasi dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi di sekitar Perusahaan.
Indofarma memiliki kepedulian khusus terhadap pendidikan nasional. Sejak lama di kenal sebagai teaching factory, setiap tahun Perseroan menerima puluhan pelajar dan mahasiswa magang, terutama di Pabrik yang juga merupakan lingkungan Kantor Pusat. Yang lebih membanggakan, pelajar dan mahasiswa yang magang berasal dari sekolah dan perguruan tinggi terkemuka di seluruh nusantara, bukan hanya dari Jakarta dan sekitarnya.
Guna memantapkan posisi Indofarma di pasar produk herbal, Perseroan meluncurkan Biovision Gold. Selain varian terbaru produk herbal yang telah diterima luas ini, pada 2008 Indofarma juga meluncurkan lima produk Obat dengan nama Dagang (OND) lain yang dapat diharapkan akan mengurangi ketergantungan bisnis Perseroan terhadap produk obat generik (OGB).

Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Menuju Kesejahteraan Bersama
Komunitas sosial, terutama disekitar wilayah usaha perusahaan, merupakan stake holder yang sangat penting untuk masa depan sebuah perusahaan. Indofarma selalu berupaya mengaktualisasikan diri sebagai bagian dari komunitas sekitar. antara lain melalui kegiatan community development. Ada tiga program yang dapat dilakukan: CSR yang wajib dilaksanakan oleh perseroan yang dananya dibiayakan oleh perusahaan sesuai UU No 40 tahun 2007, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan merupakan alokasi laba setelah pajak maksimum 2% untuk kemitraan dan maksimum 2 % untuk Bina Lingkungan, keduannya  mengacu Per Men BUMN No 05/MBU/2007, dan masih banyak program bakti sosial yang dilaksanakan oleh karyawan.
Program community development yang dibiayakan perusahaan berupa program kemitraan kepada poskesdes (Pos Kesehatan Desa) Desa siaga di beberapa Kabupaten di Jawa, sudah tersealisir di Kab. Karanganyar 100 Desa Siaga, masing-masing dibantu modal Rp 500.000, sehingga hibah berjumlah Rp 50.000.000,- berupa obat serbu (serba seribu), sebagai modal awal, selanjutnya hasil penjualan dibelikan lagi dan bergulir terus.
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang dulu bernama PUKK atau Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi. Dana yang disisihkan tahun 1989-2001 sebesar Rp. 9.361.298.177,- telah disalurkan kepada 1.219 unit mitra binaan dalam bentuk pinjaman modal sebesar Rp. 13.276.050.000,-, hibah kemitraan sebesar Rp. 1.356.537.345,- dan hibah bina lingkungan sebesar Rp. 2.291.749.429,-. Untuk penjaminan Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUMLTA) di Bank Mandiri sebesar Rp 1.027.000.000,-. Operasional kemitraan Rp 353.385.115,- dan operasional Bina lingkungan Rp 9.458.286.-
Dari 1.219 unit mitra binaan PKBL PT. Indofarma, Tbk tercatat 519 unit mitra binaan yang telah selesai dibina, sedangkan sisanya yang masih menjadi mitra binaan sebanyak 700 unit. Diantara mitra binaan 871 bergerak di bidang perdagangan, sisanya di bidang industri 45, jasa 49, pertanian 88, peternakan 8, perikanan 1 dan lain-lain termasuk koperasi 157. Jumlah dana yang telah disalurkan, telah diterima pengembalian pokok pinjaman sebesar Rp. 8.874.871.298,- dan bunga pinjaman sebesar Rp. 605.238.758,-. Sampai dengan 31-Desember-2007, tercatat saldo piutang mitra binaan sebesar Rp. 4.662.062.160,- terdiri dari angsuran pokok Rp. 4.401.178.702,- + angsuran bunga Rp. 260.883.458,-.
Program Kemitraan khusus tahun 2007 telah menyalurkan untuk pinjaman modal sebanyak 45 unit UKM  yang tersebar di 4 Propinsi yakni Jabar, Jateng, Jatim, dan NTB sejumlah Rp 960.000.000,-. Untuk pelatihan mitra binaan sebesar Rp 32.938.000,-. Program Bina Lingkungan pada tahun 2007 telah memberikan bantuan banjir Manggarai dan Bekasi Rp 6.500.000,-, pelatihan remaja putus sekolah dan ibu-ibu sekitar perusahaan Rp 12.550.000,-,  sunatan masal Rp 7.500.000,0 dan bakti sosial menjelang lebaran di Cibarusah Bekasi Rp 7.500.000,-.
VALUE

1.Compassionate

Respectfor People
Mengakui kemampuan untuk berprestasi. Menghargai integritas, pengetahuan, inovasi, keahlian serta perbedaan. Menjunjung nilai kerjasama tim. Mendengar dan menganalisis sebelum bertindak. Secara aktif mencari dan menghargai kontribusi orang lain. Memberikan kesempatan untuk membangun diri dan berkembang. Membantu kesulitan karyawan.

Cooperative
Memahami bahwa sukses kita adalah hasil dari kerjasama. Selalu terbuka dalam komunikasi dan berbagi pengetahuan serta membangun semangat/budaya tim. Menghindari unsure kepentingan dan batasan personal/departemen untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan lebih baik.

Fairness
Memutuskan dan bertindak berdasarkan kepentingan bersama dalam mencapai visi perusahaan. Memberikan karyawan kesamaan kesempatan dan penghargaan berdasarkan nilai yang mereka berikan kepada perusahaan.

2.Professional Integrity
Menjunjung tinggi nilai etika dan standar professional, serta kontribusi untuk menghasilkan produk dan proses dengan kualitas yang tertinggi.

Commitment:
Menetapkan secara jelas atas tujuan, komitmen, sasaran, rencana dan lainnya kepada seluruh karyawan dan terutama kepada konsumen. Bertanggung jawab atas kesuksesan dan kegagalan dan senantiasa memperbaiki kesalahan. Kita tidak mengijinkan adanya negative energi atau alas an lainnya.

Strive for Excellence
Mengusahakan perkembangan yang terus menerus dalam perbaikan kinerja dan menjadikan setiap karyawan menjadi ahli dan bertanggung jawab pada bidangnya. Menciptakan dan membangun nilai tambah di dalam semua kegiatan. Mengukur hasil secara hati-hati. Bersama mencapai tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang dengan selalu menghormatinilai perusahaan.

3. Entrepreneurial Visionary
Menjadi pemimpin yang mempunyai keberanian untuk memvisikan dan menerima perubahan. Menetapkan tujuan, ambisi serta mempunyai keyakinan dan penyelesaian masalah. Memotivasi staf dengan keteladanan dan memberikan dukungan serta keberanian kepada yang lain untuk berinisiatif.
Innovation
Inovasi adalah kunci utama untuk mewujudkan visi Indofarma. Dilakukan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan meningkatkan profit. Menerapkan proses/metode yang baru dan efektif, didukung oleh kerjasama tim dan kemitraan dan selalu berorientasi pada solusi yang inovatif. Menjunjung prinsip keterbukaan dan perbedaan ide yang terjadi.

Customer Focus
Bertanggungjawab atas konsumen dengan selalu melakukan upaya dan komitmen untuk mengidentifikasi, mengerti dan melayani kebutuhan konsumen dengan menyediakan produk yang inovatif, berkualitas dan harga terjangkau serta tersedia untuk masyarakat.

ASET / MODAL

Dari jumlah NWC PT Indofarma,Tbk. terjadi penurunan pada tahun 2008.Ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan modal kerja bersih. Sedangkan dari tahun 2004 sampai 2007 cenderung terjadi peningkatan.Semakin kecil jumlah NWC yang dimiliki maka semakin besar resiko yang dihadapi perusahaan karena jika semakin besar NWC maka semakin likuid keadaan perusahan tersebut.
Kondisi yang sama juga terjadi pada NOWC PT Indofarma,Tbk.Dari tahun ketahun NOWC yang dimiliki semakin menurun. NOWC merupakan aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar yang tidak dikenakan bunga dan seringkali terdiri dari kas dan sekuritas, piutang dan persediaan, dikurang hutang dagang dan kewajiban akrual. NOWC digunakan untuk melihat bagaimana hutang lancar digunakan untuk, membiayai aktiva lancar. Faktor penting yang cukup mempengaruhi adalah jumlah pembelanjaan jangka pendek yang terbatas.
NOWC PT Indofarma,Tbk mengalami penurunan dari tahun ke tahun.Hal ini menunjukkan semakin menurunnya kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva lancar dan hutang lancar dari tahun ke tahun sehingga menyebabkan modal kerja untuk kegiatan operasi yang dimiliki dari tahun ke tahun pun semakin sedikit. Hal ini dapat berpengaruh pada profitabilitas perusahaan, karena semakin sedikit modal kerja operasi yang dimiliki semakin terbatas pula kemampuan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasinya.
Secara garis besar, dengan melihat kondisi NWC maupun NOWC PT Indofarma,Tbk yang dari tahun ke tahun membaik,meskipun terjadi sedikit penurunan di periode 2008.Dimana hal ini mengartikan bahwa jumlah aktiva lancar yang dimiliki pada tahun 2008 ternyata tidak cukup besar untuk menutup hutang lancarnya, maka dapat dikatakan PT Indofarma,Tbk berada pada tingkat keamanan (margin or safety) yang kurang memuaskan. Hal ini tentu harus mendapat perhatian yang lebih oleh managemen perusahaan PT Indofarma,Tbk sebab bila perusahaan tidak dapat mempertahankan ”tingkat modal kerja yang memuaskan” , maka akan ada kemungkinan.
perusahaan dapat berada dalam keadaan insolvent (tidak mampu membayar kewajiban- kewajiban yang sudah jatuh tempo), dan bahkan mugkin terpaksa harus dilikuidasi (bangkrut).
CCC (Cash Convertion Cycle) dari suatu perusahaan merupakan jangka waktu yang diperlukan sejak perusahaan mengeluarkan uang kas untuk membeli bahan-bahan mentah sampai dengan pengumpulan hasil penjualan barang jadi yang dibuat dengan bahan mentah tersebut.Semakin singkat siklus konversi kas maka hal ini akan memperlancar kegiatan operasi perusahaan.
Pada Siklus konversi kas di PT Indofarma,Tbk dari tahun ke tahun semakin panjang, hal ini menyebabkan jumlah kas yang dimiliki semakin sedikit yang dapat digunakan untuk modal kerja perusahaan, sehingga semakin tinggi pendanaan eksternal dan semakin besar biaya yang
dibutuhkan.
Siklus konversi kas dapat dipersingkat dengan cara:
1. Mengurangi periode persediaan dengan memproses dan menjual barang secara lebih cepat.
2. Mengurangi periode penerimaan piutang dan mempercepat penagihan
3. Memperpanjang periode penangguhan hutang dengan memperlambat pembayarannya.
NWC / modal kerja bersih merupakan selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar.Dari hasil NWC tersebut dapat diketahui bahwa aktiva lancar yang dimiliki perusahaan tidak mampu menutupi hutang lancar yang dimiliki.
Kondisi yang sama juga terjadi pada NOWC PT Indofarma,Tbk.Dari tahun ketahun NOWC yang dimiliki semakin menurun.Hasil ini menunjukkan semakin menurunnya kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva lancar dan hutang lancar dari tahun ke tahun sehingga menyebabkan modal kerja untuk kegiatan operasi yang dimiliki dari tahun ke tahun pun semakin sedikit.
BUMN Executive Breakfast Meeting
BUMN Executive Club (BEC) kembali mengadakan acara rutin BUMN Executive Breakfast Meeting pada tanggal 18 Juli 2007 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta. Agenda tetap yang diselenggarakan sebulan sekali ini menjadi giliran BUMN Farmasi selaku panitia penyelenggaranya. Maka PT Indofarma Tbk, PT Kimia Tbk, PT Bio Farma dan PT Phapros Tbk yang tergabung dalam Forum BUMN Farmasi bekerjasama dalam menyelenggarakan acara tersebut. Hadir dalam acara tersebut Menneg BUMN Sofyan Dajalil dan Menkes Siti Fadillah Supari, Ketua Komisi VI DPR Didik J. Rachbini beserta para Direksi dan Komisaris BUMN dari berbagai sektor usaha. Acara yang dihadiri kurang lebih 200 undangan tesebut selain berisi sambutan dan arahan dari Menneg BUMN dan Menkes, juga sekaligus dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepakatan antara BUMN Farmasi dan BUMN lainnya.
Pada awal acara, Syamsul Arifin, ketua Forum BUMN Farmasi, yang juga Dirut Indofarma,  menuturkan acara itu bertujuan untuk membangun sinergi di kalangan BUMN terutama BUMN farmasi serta meningkatkan kinerja dan ketahanan BUMN farmasi di tingkat nasional dan regional di tengah era persaingan yang makin ketat saat ini. Dalam sambutannya Menkes menegaskan bahwa BUMN sesuai namanya adalah lembaga milik negara, bukan milik swasta, sehingga sudah seharusnya menjadi pendukung program-program pemerintah. Dengan demikian BUMN selain mencari profit, juga harus berorientasi pro rakyat. Contohnya BUMN farmasi haruslah berfungsi  menjadi stabilisator harga obat, agar harga obat tidak melangit hingga sulit diakses  rakyat. Menkes menegaskan belakangan ini ia telah meluncurkan beberapa program pro rakyat seperti Askeskin, obat rakyat murah berkualitas, dan apotik rakyat.  Perlu diketahui bahwa PT Indofarma adalah produsen pertama obat rakyat murah berkualitas yang juga dikenal sebagai obat serbu (serba seribu).
Sementara Menneg BUMN memberikan dukungan penuh pernyataan Menkes bahwa BUMN harus pro rakyat. Untuk menindaklanjuti pernyataan tersebut diperlukan pemetaan masalah secara komprehensif dari hulu sampai hilir, termasuk soal regulasinya. Untuk itu ia berharap kalangan Direksi BUMN lebih sering melakukan forum diskusi yang akan melahirkan strategi bersama.  Dalam acara tersebut juga telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara BUMN Farmasi dengan BUMN lainnya dalam rangka komitmen pelaksanaan CSR (Corporate Social Responsibility) yang disaksikan oleh Menkes dan Menneg BUMN.
KEUNTUNGAN

RUPST : INAF Raih Laba Rp 11 Miliar di 2007

RUPST PT. Indofarma Tbk Tahun Buku 2007
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indofarma, Tbk (INAF) untuk tahun buku 2007 telah dilangsungkan pada 28 Mei 2008 di Hotel  Century Park, Jakarta.  RUPST  tersebut  dihadiri para Direksi, Komisaris, para pemegang saham serta  lembaga dan profesi penunjang yang terdiri dari Notaris Imah Fatimah, SH, Akuntan Publik HLB Hadori & rekan, serta Biro Administrasi Efek PT. Datindo Entrycom.
RUPST INAF itu dihadiri atau diwakili oleh para pemegang saham atas kuasa yang sah  sebanyak 2.500.911.500 saham  atau 80,69 % dari jumlah seluruh saham yang dikeluarkan oleh perseroan termasuk didalamnya saham seri A (dwiwarna). Dengan demikian  RUPST dan keputusan yang diambil di dalam RUPST tersebut sah karena sesuai dengan  pasal 26 anggaran dasar perseroan yang menyebutkan RUPST harus dihadiri paling sedikit 2/3 bagian dari seluruh saham yang dikeluarkan oleh perseroan.
RUPST tersebut memuat 6 agenda pembahasan seperti terangkum  di bawah ini. Agenda pertama berisi persetujuan Laporan Tahunan Direksi Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 dan persetujuan Laporan Kegiatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) untuk Tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2007. Agenda yang kedua berisi pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 serta memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada dewan Komisaris dan Direksi Perseroan atas tindakan pengawasan dan pengurusan yang dilakukan untuk Tahun Buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 serta pengesahan Laporan Keuangan PKBL untuk Tahun Buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2007.
Agenda yang ketiga adalah Penetapan Penggunaan Laba Bersih Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir pada  31 Desember 2007. RUPST menyetujui laba perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir pada 31 Desember 2007 sebesar Rp 11.076.807.048 seluruhnya  untuk menutup saldo laba per 31 Desember 2006 yang masih negatif sebesar Rp 104.541.284.259. Sehingga, saldo laba per 31 Desember 2007 menjadi sebesar negatif Rp 93.464.477.210. Dengan posisi saldo laba yang masih negatif ini, maka Perseroan belum dapat membagikan dividen di tahun buku 2007 ini.
Seperti diketahui bahwa sepanjang Tahun 2007, sejumlah prestasi telah diukir oleh beberapa pos keuangan di antaranya pertumbuhan penjualan yang signifikan sebesar 24% dari Rp 1,026 triliun menjadi Rp 1,273 triliun. Sedangkan industri farmasi nasional sendiri hanya tumbuh 9,2% pada tahun yang sama. Walaupun di pasar generik nasional, pertumbuhan yang terjadi minus 10.87%. Hal ini terjadi dikarenakan adanya penurunan harga OGB. Namun PT. Indofarma Tbk. tetap berkomitmen untuk menyediakan obat generik bagi masyarakat luas.
Beberapa pencapaian Perseroan di tahun 2007 antara lain: output dari produksi mengalami peningkatan khusus sekitar 20% serta Perseroan tetap mempertahankan posisinya sebagai leader di pasar obat generik nasional dengan pangsa pasar sebesar 22%. Selain itu ekspansi usaha di sektor institusi dan regular juga menghasilkan peningkatan penjualan sebesar 24% dibanding tahun lalu, yaitu mencapai Rp 1.2 trilyun. Secara umum terjadi peningkatan penjualan bersih produk Indofarma sendiri di tahun 2007 di regular dan di sektor institusi. Penjualan di regular meningkat dari Rp 260 miliar di tahun 2006 menjadi Rp 350 miliar di tahun 2007. Sedangkan penjualan produk Indofarma di sector institusi meningkat dari Rp.88.5 miliar di tahun 2006 menjadi Rp. 160 miliar di tahun 2007, berarti meningkat hampir 85%. Secara total produk Indofarma yang berhasil dijual di tahun 2007 mengalami peningkatan dari Rp 350 miliar menjadi Rp 510 miliar di tahun 2007.
Dari perspektif keuangan, struktur neraca juga menguat dibuktikan dengan meningkatknya aktiva secara signifikan dari Rp 686,94 miliar menjadi Rp 1,013 triliun. Peningkatan yang mencapai 45,6% ini disebabkan oleh kenaikan aktiva lancar dari Rp 563,17 miliar menjadi Rp 901,35 miliar, terutama pada komponen kas dan setara kas serta persediaan. Sedangkan kewajiban lancar juga menguat sangat signifikan sebesar 83,2% dari Rp 379,34 miliar menjadi Rp 694,92 miliar, terutama pada komponen hutang bank berupa kredit modal kerja yang mencapai Rp 179,85 miliar.
Oleh karena jumlah aktiva lancar jauh lebih besar ketimbang kewajiban lancarnya, maka posisi keuangan PT Indofarma Tbk sepanjang 2007 cukup likuid untuk menutup kewajiban jangka pendeknya. Apalagi, arus kas dari aktiva operasi juga positif dan naik cukup berarti 14% dari Rp 73,16 miliar menjadi Rp 83,44 miliar. Komponen aktiva lainnya yang meningkat tinggi adalah pos persediaan dari Rp 128,93 miliar menjadi Rp 203,02 miliar. Peningkatan sebesar 57,5% tersebut sebagai upaya perusahaan untuk mensiasati fluktuasi harga bahan baku. Kondisi tersebut diharapkan akan berpengaruh terhadap membaiknya kinerja perusahaan di Tahun 2008.
Agenda yang ke empat berisi penetapan gaji / honorarium berikut fasilitas dan tunjangan lainnya untuk anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan. RUPST juga menyetujui usulan Direksi dan Dewan Komisaris tentang gaji direksi dan Dewan Komisaris yang telah dihitung oleh Komite GCG, nominasi dan remunerasi Tahun Buku 2008 berdasarkan formula yang telah disepakati dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan Perseroan serta mempertimbangkan azas kepatutan/kepantasan. Dewan Komisaris juga diberikan wewenang untuk memberikan tunjangan dan fasilitas lainya bagi Direksi dengan memperhatikan kemampuan keuangan Perseroan.
Agenda ke lima berisi penunjukan  Akuntan Publik untuk mengaudit Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku 2008 dan penujukan Akuntan Publik untuk mengaudit PKBL Tahun Buku 2008.  RUPST menyetujui penunjukan Kantor Akuntan Publik HLB Hadori & Rekan sebagai auditor yang akan mengaudit Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir pada 31 Desember 2008 dan pengelolaan pelaksanaan PKBL untuk Tahun Buku 2008.
Agenda ke enam merupakan agenda terakhir yang membahas perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan Undang-undang 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas. RUPST menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait, dengan jalan menyusun kembali seluruh anggaran dasar Perseroan. Serta memberi kuasa kepada Direksi Perseroan dengan hak substitusi untuk menyatakan kembali keputusan agenda ke enam mengenai Perubahan Anggaran Dasar dan menegaskan susunan pemegang saham dan susunan Direksi / Dewan Komisaris Perseroan dalam suatu akta Notaris tersendiri dan mengajukan permohonan persetujuan atas perubahan anggaran dasar tersebut serta memberitahukan perubahan data perseroan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan instansi-instansi terkait termasuk tetapi tidak terbatas untuk mengadakan perubahan dan / atau penambahan yang diperlukan guna mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang.
Dalam paparannya, Direksi Perseroan juga menyampaikan beberapa resiko yang dihadapi antara lain: resiko pertumbuhan negative pasar generik dan resiko harga obat generik (regulasi). Dalam mengahadapi resiko tersebut Perseroan telah melakukan meningkatkan pertumbuhan produk OTC dan Branded serta melakukan pengelolaan portofolio produk dan melakukan penjualan secara bundling (mix sales).
Sedangkan dalam menghadapi resiko harga bahan baku, Perseroan telah mengadakan kontrak jangka panjang dengan produsen bahan baku yang memungkinkan perseroan melakukan negosiasi ulang persyaratan dan harga yang disepakati serta lebih kompetitif. Guna peningkatan mutu produk, Perseroan telah menyelesaikan persiapan renovasi fasilitas produksi dalam rangka memenuhi persyaratan current Good Manufacturing Practice (cGMP). Selain itu Perseroan juga senantiasa meningkatkan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya di Bidang Produksi dan Pemastian Mutu serta melakukan pengujian ketersediaan hayati dan kesetaraan hayati (BA/BE) untuk beberapa formula produk obat.  (Disarikan dari Press Release Hasil RUPST INAF tahun buku 2007,yang dikeluarkan Corporate Secretary).
Indofarma Global incar pendapatan Rp800 miliar
Presiden Direktur Indofarma Ary Gunawan menjelaskan pasar healthy care cukup besar yaitu 33 juta dan 6 juta – 7 juta orang pada sektor swasta. BUMN ini menilai positif adanya sinergi 14 BUMN sehingga ke depan Indofarma dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis dan operasional serta memperoleh keuntungan yang besar.
Ary menuturkan Indofarma siap menghadapi pelaksanaan Asean Free Trade Agreement (AFTA). Kerjasama dengan PT Rajawali, PT IGS dan PT Kimia Farma merupakan bukti kesiapan Indofarma."Sudah ada 70 pabrik dan 1214 sales force. Jika ini bergabung, Indofarma akan memiliki jaringan yang bersatu, besar dan kuat," ujar Ary di sela-sela acara penandatanganan perjanjian kerja sama & MOU sinergi BUMN bertempat di kantor Kementrian BUMN sore tadi.

MOU Indofarma dengan PT Telekomunikasi pada layanan jaringan komunikasi data dan internet serta layanan e-apotik sore ini merupakan usaha yang dilakukan untuk mencapai keuntungan yang ditargetkan tersebut.

Sinergi antar BUMN didasarkan atas Peraturan Mentri Negara BUMN No 5 tahun 2008 tentang pengadaan barang dan jasa di lingkungan BUMN.
Ary menuturkan Indofarma sudah mempunyai 124 cabang di seluruh Indonesia, tahun ini akan meningkatkan pelayanan regular, menambah dan meningkatkan alat kesehatan serta laboratorium."Posisi kami akan ditopang dengan infrastruktur yang bagus, IT sudah online real time, sehingga jika akan laporan dapat menggunakan sms dan email," ucap Ary.

Indofarma Global Medika merupakan perusahaan hasil restrukturisasi PT Indofarma Tbk pada 2000. Anak usaha Indofarma ini berperan sebagai distributor dari produk-produk PT Indofarma dan perdagangan alat kesehatan.

Adapun PT Indofarma Tbk menargetkan penjualan bersih Rpl,4 triliun pada 2010, naik 27.27% dari target penjualan tahun ini Rp 1 J triliun ditopang oleh peningkatan penjualan obat dari program jamkesmas.

Omzet Obat Generik Terus Naik

Meski penjualan obat generik terus meningkat, volume penjualannya masih kecil sehingga belum mengancam pangsa pasar produsen obat bermerek.
JAKARTA - Kinerja perusahaan farmasi yang mengandalkan penjualan obat bermerek saat ini belum terpengaruh oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan obat generik. Volume penjualan obat generik diperkirakan akan meningkat 5-10 persen setiap tahunnya.Direktur Pemasaran PT Kimia Farma Tbk Agus Anwar mengatakan untuk pasar farmasi di Indonesia, volume penjualan obat generik tahun ini baru sekitar 9 persen dari total potensi pasar penjualan farmasi nasional yang mencapai 37 triliun rupiah. Namun, omzet obat generik diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya.
"Saat ini masih kecil, namun penjualan obat generik akan terus meningkat hingga 5-10 persen ke depannya," ungkap Agus, Selasa (13/7).Agus menambahkan tahun ini, perseroan menganggarkan dana 800 miliar rupiah untuk belanja modal (Capex). Dari dana tersebut, 360 miliar rupiah untuk memproduksi obat generik dan 440 miliar rupiah untuk obat non-generik.Dia melanjutkan obat generik diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menengah ke bawah dengan harga yang terjangkau, "jika masyarakat tidak memunyai uang cukup untuk membeli obat branded, dia bisa memilih obat generik. Jadi, semuatergantung pilihan masyarakat, namun sebetulnya obat ini memiliki kualitas yang sama dengan obat branded" jelas dia.
Seperti diketahui, pemerintah saat ini gencar mengampanyekan pemakaian obat generik di masyarakat. Mereka juga disarankan agar meminta dokter menuliskan resep obat generik.Terkait proyeksi kinerja hingga akhir tahun ini, pihaknya optimistis bisa mencapai penjualan hingga tiga triliun rupiah. Sedangkan laba bersih diproyeksikan bisa mencapai 60 miliar rupiah. "Kami optimistis karena saat ini sudah mengantongi kontrak senilai 600 miliar rupiah," katanya.Kontrak-kontrak tersebut berasal dari pemerintah yang terdiri dari tiga program, yakni program obat HIV/AIDS, obat demam berdarah, dan obat malaria senilai 150 miliar - 170 miliar rupiah. Selanjutnya, untuk program peningkatan gizi dan obat lainnya, masing-masing bernilai 50 miliar rupiah dan 150 miliar rupiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar